Kemerdekaan Pendidikan Indonesia

Oleh: Diana Andriani

Ke·mer·de·ka·an n keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan: – adalah hak segala bangsa.

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia

 

Demikian sekelumit makna kata kemerdekaan menurut KBBI. Dengan arti seperti itu, wajarnya Indonesia dapat mengatur sendiri kehidupan negaranya. Masyarakatnya tidak terikat oleh pihak manapun dan kebutuhannya dapat terpenuhi secara mandiri. Namun, coba kita tinjau dari satu titik, seperti pendidikan.

 

Pendidikan sebagai dasar paling utama majunya sebuah bangsa. Sekaya apa pun, jika sumber daya manusianya tidak terdidik, tidak akan menjadi bangsa yang maju. CNN Indonesia menyebutkan setidaknya ada 6 hal yang menjadi masalah pendidikan di Indonesia, antara lain,  kualitas sarana fisik, kualitas dan kesejahteraan guru,  prestasi siswa, kesempatan pemerataan pendidikan, relevansi pendidikan dengan kebutuhan dan biaya pendidikan. Mari kita kupas satu per satu.

 

Pertama, Sekolah menjadi satu dari sekian sarana fisik pendidikan. Sayangnya, keberadaan sekolah tidak terlalu berarti untuk sebagian orang. Sering kita mendengar penggusuran sekolah untuk menjadi bangunan lain yang bersifat keuntungan pribadi, atau rusaknya sekolah akibat bencana alam. Bahkan di Indonesia bagian timur, dalam satu kecamatan sama sekali tidak ada sekolah atau sekolahnya hanya terbuat dari tenda dan kursi seadanya.

 

Disaat sebagian orangtua mengeluhkan tidak adanya pendingin ruangan dalam ruang kelas anaknya, sebagian orangtua lain hanya bisa berdoa melihat anaknya sekolah berbatasan langsung dengan sungai yang mengalir deras.

 

Belum lagi, kedua,  kurangnya kualitas guru yang dapat terlihat sangat jelas di Indonesia. Lebih banyak guru yang berkualitas baik mengajar di Jakarta dibandingkan dengan di Papua.

 

Ketiga, rendahnya prestasi siswa.  Sayang sekali setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, dan beberapa orangtua di Indonesia masih me-mutlak-an kecerdasan dilihat dari nilai akademisnya. Mungkin ini menjadi alasan mengapa prestasi siswa tak menonjol. Jika bukan tentang akademis, sekolah akan menganggap seoran siswa bodoh.

 

Sebaliknya jika seorang siswa sangat pintar akademis, maka dia akan dianggap cerdas 100%. Teori semacam ini yang membuat siswa menjadi merendah akan bakatnya sendiri. Mereka akhirnya hanya memendam bakat yang dimiliki. Dan prestasi hanya milik mereka yang dapat menghitung sistem persamaan linear dengan waktu cepat.

 

Keempat, pemerataan pendidikan. Indonesia adalah negara kepulauan, yang menjadi salah satu masalah kurang meratanya pendidikan. Tapi jika dilihat sebagai sebuah anugrah, tentunya hal itu tidak bisa dijadikan sebuah alasan. Dua ratus juta lebih manusia di Indonesia, jika pendidikannya tidak merata hanya karena akses sebagai negara kepulauan, itu hanya alasan. Jika banyak yang menyadari pentingnya pendidikan sebagai dasar kemajuan negara, kita seharusnya saling bahu membahu untuk meratakan pendidikan di Indonesia. Banyak kelahiran di Indonesia tidak sebanding dengan banyaknya pendidikan untuk generasi yang sudah terlanjur dilahirkan. Tidak bisa tidak, pendidikan wajib dilaksanakan oleh semua penduduk di Indonesia.

 

Kelima, relevansi kebutuhan dengan pendidikan. Banyak sekali suku dan budaya di Indonesia. Kebiasaan setiap anak dalam keluarga juga berbeda dalam didikannya. Sehingga kebutuhan pendidikan di Indonesia setiap daerahnya tidak dapat disamakan antara satu dengan lainnya. Terutama jika acuannya adalah pendidikan kota yang sudah maju. Jelas saja siswa di pedalaman tidak dapat mengikuti pendidikan tersebut. Baiknya para petinggi pendidikan ditempatkan di masing masing daerah tertinggal di Indonesia. Agar kebutuhan mereka relevan dengan pendidikan yang dijalankan di Indonesia.

 

Keenam, mahalnya biaya pendidikan. Pernah mendengar orangtua yang menjual sawah demi menyekolahkan anaknya? Atau bahkan menjual ginjalnya? Bahkan penjajah dahulu tidak pernah menyita ginjal untuk membayar pajak. Apa yang salah dengan negeri ini? Untuk kemajuan negara sendiri saja, kita harus membayar mahal. Beberapa anak sd bahkan harus turun ke jalan sepulang sekolah. Atau menyambut hujan di depan pusat pertokoan, hanya demi uang sekolah mereka. Apakah pendidikan hanya dijual untuk anak yang mampu saja?

 

Membincangkan kemerdekaan dari segi pendidikan tidak akan ada habisnya. Setiap tahunnya, kita merayakan hari kemerdekaan dengan kerupuk, kelereng, atau pinang ber-oli. Tapi di sisi lain, masih ada saudara kita di bagian Indonesia lain, yang masih belum bisa membaca, menulis, bahkan tidak tahu cara memegang pensil. Jadi, apakah tahun ini kita sudah merdeka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *