Menyimak Curhat Ki Hajar Dewantara

Sebuah Cerpen

oleh: Reni Lestari

Pagi-pagi, cahaya matahari nyelonong masuk melalui jendela menembus hordeng, membangunkanku yang masih setengah mengantuk. Suara sepasang pantopel berdenyit-denyit di lantai, seolah bersekongkol membikin mata terjaga tiba-tiba.

Lalu kudapati punggung seorang pria, tinggi besar, memakai setelan cokelat kusam dengan peci hitam pekat bertengger di kepala, kedua tangannya bersedekap. Dan sepatunya itu, yang paling mengangguku, sepatu usang berwarna abu padam. Badannya membelakangiku dan menghadap ke jajaran buku yang tertata rapi pada rak sepanjang tembok kamar ini.

Aku berdeham. Tidak berhasil. Sial, tenggorokanku kering sekali. Kucoba lebih keras, usai menenggak setengah botol air mineral sisa semalam. Berhasil. Sepasang sepatu abu padam itu kembali berdenyit, membalikkan badan. Aku pun melongo.

Kutengok pigura kaca tua yang menempel di atas rak buku. Kosong.  Seharusnya ada sosok yang mengisi pigura itu, yang semalam sebelum aku tertidur, ia masih tampak anteng di tempatnya, dan pagi ini –entah  kesialan apalagi yang menimpaku– tiba-tiba berdiri persis di depan situ.

Bila kau dapati segaris nama di bagian bawah pigura itu, akan terbaca dengan jelas: KI HAJAR DEWANTARA, PAHLAWAN NASIONAL.

***

Jadi apa yang dilakukan Ki Hajar Dewantara –pahlawan , bapak pendidikan nasional– di  kamar ini pagi-pagi?

Seketika aku teringat bahwa hari ini tanggal 2 Mei, hari jadinya, hari pendidikan nasional. Haruskah kuucapkan selamat ulang tahun padanya? Atau kutawari teh? Kopi? Iya, kawan, dia masih di depan situ, melihatku yang masih juga melongo.

Ketika melihatku, sorot matanya biasa saja, hampir tidak berubah seperti dalam pigura yang semalam masih kulihat, atau agaknya seperti di setiap pigura yang tertempel di sekolah manapun di negeri ini.

Dia lalu mencabut peci hitam yang membenam di kepalanya yang lonjong itu. Menaruh peci di atas meja, menarik  kursi dan duduk mensejajarkan diri tepat dihadapanku yang terpaku di atas kasur.

“Ki…” akhirnya kusapa juga orang itu. Canggung dan sedikit terbata. Akhirnya orang itu tersenyum, dan kata-kata berikutnya yang kudengar bikin aku semakin terheran-heran.

“Ki mau curhat,” ujarnya. Suaranya bariton berat, khas orang zadul. Ingin rasanya tertawa. Demi sopan santun, kutahan-tahan setengah mati.

Lama sekali ia bicara kesana kemari. Mula-mula ia tertawa, lalu air mukanya berubah gelisah, ada kalanya gusar, dan kembali redup. Orkestra ekspresi wajah itu ia pertunjukkan selagi bercerita tentang apa yang dilihatnya dari balik pigura-pigura usang di dinding-dinding setiap sekolah.

Bingkai foto presiden dan wakil presiden boleh berganti setiap lima tahun, tapi pigura si Ki yang satu ini, tetap bertahan dari dasawarsa ke dasawarsa berikutnya. Hanya atap roboh dan angin beliung saja mungkin yang mampu merontokkannya dari dinding tempat anak-anak berteduh belajar.

Selagi berdiam di balik pigura-pigura itulah, ia jadi saksi bagaimana pendidikan nasional yang dulu ia perjuangkan kini diestafetkan. Menyaksikan murid dipukuli guru , ia geram. Menyaksikan guru jadi bulan-bulanan muridnya, ia tak kalah marah. Ada guru yang ongkang-ongkang kaki saja, rekeningnya penuh terisi setiap tanggal muda. Ada pula yang lain, berjalan berkilo-kilometer, berdedikasi, dibayar sekadarnya.

Rupanya dia juga mengikuti perkembangan terbaru soal ujian nasional berbasis komputer yang memusingkanku dan ribuan teman-temanku seantero negeri. Malam sehabis ujian, ia memperhatikanku mencuitkan keluh kesah di dunia maya, me-mention pak menteri hingga presiden. Katanya, ia tertawa cekikian sepanjang malam.

Anak-anak di nun Kampung Gligir Pasang, Desa Puai dan Yokiwa, Desa Sumberpetung , atau Desa Gong Solok adalah yang paling dia kasihi. Hal yang paling menggembirakan, katanya, kalau ada relawan-relawan datang ke tempat-tempat itu. Datang dari kota membawa cerita dan semangat buat anak-anak. Orang-orang yang membawa panji-panji kerelawanan, mengorbankan masa muda dan kenikmatan tinggal di kota.

Dia juga bangga ketika melihat anak-anak yang dulu tumbuh dan belajar di desa, saat telah besar dan pintar, tidak tersesat di kota. Mereka yang kembali ke desa dan membangun apa saja yang bisa dibangun.

Tapi ternyata, Ki kesal bukan kepalang jika ada yang menjadikan panji-panji kerelawanan itu sebagai kendaraan politik semata. Katanya lagi, dia juga paling tak suka melihat pendidikan di kota-kota besar jadi makanan kapitalis, dikotak-kotak, disekat-sekat dan tidak membebaskan.

Pendidikan itu, ujarnya, harus memerdekakan manusia dari aspek hidup batin, bebas berpikir dan  mengambil keputusan. Pendidikan juga mesti  bersinergi dengan pengajaran, yang pada dasarnya memerdekakan hidup manusia dari aspek lahiriah, yaitu kemiskinan dan kebodohan.

Begitulah  ia berceramah.

“Ki, aku tidak suka ujian nasional, ingin rasanya berhenti sekolah saja,” giliran aku yang curhat.

Dia mengangguk bijak, suara baritonnya kembali memenuhi udara.

“Ning, kamu tahu apa yang Ki lakukan ketika tak suka Belanda hendak merayakan 100 tahun kemerdekannya di tanah ini?”

“Als Ik Eens Nederlander Was!” seruku.

“Sekarang sudah tidak ada Belanda yang berani mengasingkanmu,” lanjutnya.

Ya ya ya, dia mungkin teringat masa-masa diasingkan ke Pulau Bangka, usai tulisannya, yang judulnya barusan kusebut, dimuat di Surat Kabar De Express, 13 Juli 1913. Pastinya tulisan itu berhasil membikin meneer Belanda yang berkuasa saat itu naik pitam.

“Jangan salah Ki, kalau aku menulis banyak-banyak, protes banyak-banyak, jepret sana, jepret sini, ada yang lebih bahaya dari Belanda…”

Ki melepas kacamata bulatnya, memasang tampang serius dan mengerutkan dahi.

“Netizen, Ki!” timpalku.

Sejenak aku berpikir apakah pak tua ini tahu artinya netizen, mengingat perbedaan zaman diantara kami. Sedetik…dua detik…akhirnya Ki tertawa, tapi terdengar canggung dan berat.

“Tahu apa itu netizen, Ki?”

Orang itu kembali memakai kacamatanya, dan tak kusangka, ia tertawa dengan lebih lepas. Dan demi sopan santun, aku ikut tertawa juga.

 

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *