Ekstensi Pemaknaan Bahasa

Bahasa

Sebuah Upaya Memahami Peradaban-Peradaban 

Oleh: Nabiel L. S.

Ada banyak alasan untuk belajar bahasa asing. Alasan yang umum kita dengar adalah agar bisa mengerti apa yang orang asing katakan. Alasan lainnya bisa jadi supaya bisa mengerti saat membaca buku kuliah, atau supaya paham karya-karya sastra. Kalau mau dihitung, ada sangat banyak alasan, tergantung kepentingan masing-masing orang. Stereotipe bahwa bahasa hanya sekedar kurikulum muatan lokal yang dipandang sebelah mata, nampaknya harus segera diubah dan dibuang jauh-jauh.

Pengalaman pribadi saya belajar Bahasa Inggris (dan bahasa lainnya) dari SD sampai sekarang adalah kita bisa tahu bagaimana cara orang mengutarakan ide mereka. Dengan demikian, kita juga menjadi paham bagaimana cara mereka berpikir, berargumen, dan memberi penekanan dalam pendapatnya. Singkatnya, belajar bahasa bisa menjadi jembatan bagi kita untuk benar-benar memahami isi kepala orang yang berlainan budaya.

Sementara itu, dari sekian banyak bahasa asing, Bahasa Inggris agaknya sudah lama menjadi kewajiban untuk dikuasai. Banyak gembar-gembor tentang globalisasi yang mau tidak mau pasti terasa efeknya dimana pun di dunia. Mulai dari perkembangan terbaru bahwa masyarakat Suku Baduy Dalam sekarang punya HP, sampai ikut campurnya PBB di semua aspek kehidupan, adalah akibat globalisasi.

Bahasa Inggris adalah katalis globalisasi, sejak zaman renaisans dan pelayaran Colombus ke ‘India’ (padahal Amerika) sampai detik ini, yang menyebabkan dominansi peradaban barat di dunia yang mengintervensi semua aspek kehidupan manusia sampai ke kampung-kampung di Sumbawa, dibawa oleh Bahasa Inggris.

Tapi, pernahkah terpikir, ada apa sih di dunia sebelum Newton membuat Principia? Sebelum Colombus jadi nahkoda ke Amerika?

Ternyata pernah ada peradaban Islam yang dominan selama 9 abad. Namun, apa yang pernah kalian dengar tentang waktu-waktu itu? Jika dibandingkan dengan sekarang, dimana efek budaya barat tidak terbendung masuk ke hampir semua lini kehidupan, bukankah dulunya peradaban Islam pun demikian? Termasuk juga banyak peradaban sebelumnya.

Pernahkah terpikir bahwa mungkin saja tatanan sosial dan ekonomi masyarakat pada zaman dahulu, jauh lebih maju dan praktis dibandingkan apa yang diterapkan sekarang?

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membaca dan memahami karya-karya sastra penulis dan filsuf-filsuf zaman klasik. Walau sebagian besar sudah dihancurkan ketika Perpustakaan Besar Baghdad dibakar habis, atau ketika suatu ras ditindas, dijajah, dan dijadikan budak, masih ada sebagian yang jadi landasan banyak ilmu modern saat ini. Remah-remah ilmu dan teori ini salah satunya bisa didapatkan melalui bahasa.

Bahasa, pada kenyataannya, bisa membuka dunia kita lebih dari yang kita bayangkan, bukan sekedar mengumpulkan nilai untuk angka diatas kertas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *