Membaca Hari Kartini

Oleh: Diana Andriani

Bernyala-nyala hati saya, gembira akan zaman baru, ya, malahan bolehlah saya katakan menilik pikiran dan rasa, saya tiada serasa dengan zaman di Hindia ini, melainkan saya telah hidup di zaman saudara saya perempuan bangsa kulit putih yang giat hendak kemajuan, di Barat yang jauh itu. (Surat kepada Nona  Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

Surat-surat Kartini kepada temannya di Belanda dibukukan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, sehingga orang-orang yang masih dalam “kegelapan” di ‘zaman now’, mungkin dapat ‘diterangkanlah’ jalan pikirannya. Ini tentang puan dan pendidikan.

Kartini lahir ketika kata yang diucap oleh puan tidak ada artinya. Meski lahir dalam keluarga berpendidikan, tetap saja pendidikan yang dia peroleh sangat terbatas. Tetapi apakah itu membatasi? Tidak bagi Kartini. Justru disitulah letak dia menggunakan senjatanya berupa tulisan berisi ide besar yang menjadi beban pikirannya. Dia lahir sebagai bangsawan puan, bagaimana mungkin dia tiada iba melihat puan lain yang bukan bangsawan terseok-seok dalam pendidikan maupun dalam kehidupan.

Sederhana saja, Kartini ingin agar pendidikan yang diperoleh tuan dan puan bisa seimbang dan sama rata. Banyak hal yang ingin dia tahu. Banyak hal yang ingin dipelajari. Mengapa puan hanya diperbolehkan kawin? sedangkan tuan dapat sepuasnya mereguk ilmu?

Lalu, apakah yang terjadi saat ini sudah bukan lagi kesetaraan yang diinginkan? Melainkan kebalikan. Kini posisi puan mendominasi hampir di seluruh bagian kehidupan. Pekerjaan ringan ataupun berat  dapat dilakukan oleh puan. Berpikiran bahwa ketika mampu mengerjakan pekerjaan tuan, maka itulah kesetaraan. Apakah begitu?

Kenyataannya Kartini tidak demikian. Pikiran terbuka Kartini ingin agar banyak puan yang menjadi cerdas dan tidak mudah dibodohi. Dari tangan puan akan lahir banyak pemimpin. Bagaimana kemudian negara ini akan berkembang jika ‘pusat pengembangan’-nya tidak berkembang? Saat ini, saat dimana teks proklamasi sudah berusia 73 tahun, dan penjajah sudah menjadi turis, apakah ‘pusat pengembangan’ masih belum berkembang?

Bisa iya, bisa tidak. Sekarang sudah banyak puan yang sadar diri bahwa sebagaimanapun kuatnya puan atau cerdasnya puan, tetap harus berada di bawah tuan. Bukan untuk menjadi dayang, tapi menjadi sayang pada anak yang nantinya akan bergabung dengan generasi selanjutnya. Tapi tidak banyak juga tuan-puan yang bersaing dalam satu atap untuk mendapatkan kehormatan masing-masing. Sehingga mungkin Ibu Kita Kartini akan sedikit ngomel bila masih hidup.

Sudah jelas sebenarnya. Puan harus cerdas. Puan harus berpikiran terbuka. Tapi puan tetap harus kasih dan sayang sebagaimana pun yang ada di hati puan. Banyak puan yang kemudian memberontak saat ini, berkata bahwa hak emansipasinya belum terpenuhi. Belum setara hak-haknya dengan tuan. Hak seperti apa yang sebenarnya diinginkan? Apakah hak untuk menjadi sekuat tuan dan menelantarkan anaknya?

Wahai ibu Kita Kartini Putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.

Saat ini cita-cita Kartini tentang pendidikan yang dapat dinikmati puan sudah terwujud. Pendidikan bukan lagi barang mahal yang ketika kamu meminta, kamu malah mendapat pecutan. Tapi apakah sebagai puan cita-citanya sudah terwujud? Banyak yang bisa puan lakukan untuk  Indonesia. Salah satunya Jadilah sebaik-baik puan yang melahirkan tuan cerdas dan bisa menjadi pemimpin bijaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *