Cara Menjawab “Ujian Nasional”

Persiapan UN

Oleh Reni Lestari

Ada seorang tukang kayu bekerja setengah mati melakukan pekerjaannya, hampir tanpa istirahat. Gergajinya tumpul, ternyata. Seorang pemuda menasehati agar ia terlebih dahulu berhenti dan mengasah gergajinya. Namun si tukang kayu menolak karena ia berpikir bahwa meluangkan waktu untuk mengasah gergaji hanya akan memperlambat pekerjaannya.

Ketika minggu lalu media sosial kita gaduh oleh keluhan-keluhan peserta ujian nasional berbasis komputer (UNBK katanya), seketika saya teringat kisah si tukang kayu konyol itu. Kira-kira begitulah kisah yang saya catut dari buku The 7 Habbits of Highly Effective People karangan Stephen R Covey.

Bagaimana keduanya bertalian?

Bukankah kita selalu meributkan hal yang sama setiap tahun? Berbagai jenis kritik hingga hujatan mengenai penyelenggaraan ujian nasional selalu hangat pada musimnya. Lalu tenggelam, dan timbul kembali seperti cuaca.

Beberapa waktu lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sempat mewacanakan moratorium ujian nasional. Ributlah satu negara. Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi salah satu petinggi negeri yang menentang ide mantan rektor UMY itu, hingga akhirnya moratorium dicabut. Begitu pula dengan rencana penerapan five days school yang ramai pro kontra.

Nah, yang harus kita sadari dari kondisi itu adalah, negeri ini sebenarnya tidak pernah kekurangan orang pintar. Orang-orang yang rajin bergerak dan menggerakkan sekelilingnya untuk memperbaiki yang menurut mereka harus diperbaiki. Orang-orang yang suaranya pun tidak kalah vokal menyuarakan kritik terhadap sistem pendidikan kita yang tampaknya tidak maju-maju, ya.

Orang-orang itu adalah pemuda yang menasehati si tukang kayu untuk sejenak berhenti memperbaiki yang salah dalam upaya pekerjaannya. Orang-orang yang, sayangnya, diabaikan.

Lalu, siapa tukang kayunya? Well, pemerintah adalah pihak yang paling mudah menjadi kambing hitam. Ada orang yang punya prinsip don’t trust your government. Yah, apa mau dikata, sistem pendidikan memang monopoli pemerintah, kan? Seperti juga urusan-urusan publik lain.

Saya juga jadi teringat salah satu ceramah Sir Kenneth Robinson, tokoh pendidikan terkemuka asal Inggris. Dalam sebuah acara dia bilang, kita telah menjadikan sistem pendidikan kita seperti restoran fast food. Di restoran cepat saji, semua makanan diolah dengan standardisasi. Bandingkan dengan restoran non-fast food yang setiap masakannya diperlakukan dengan cara khusus. Selain perut kenyang, rasanya tak banyak nutrisi masuk ke tubuh dari makanan cepat saji.

Berlaku seperti itu pula pada sistem pendidikan kita. Saya pikir, gagasan itu sangat relevan dengan Indonesia, dan membuat saya bertanya-tanya, apakah standardisasi, seperti yang selama ini dipaksakan berjalan, salah satunya dengan ujian nasional, bisa menyelesaikan persoalan pendidikan di negara paling heterogen di dunia ini?

Sebutlah nama Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba yang sudah lama teriak-teriak tentang bagaimana pendidikan seharusnya berangkat dari konteks akar budaya. Ketika pendidikan justru melunturkan identitas budaya, hilanglah tujuan inti dari pendidikan itu sendiri.

Tetapi di lain sisi, ada pula pepatah lama yang mengatakan jika kita menudingkan telunjuk ke orang lain, sama saja mengarahkan empat jari lainnya kepada diri sendiri.

Monopoli sistem pendidikan yang dilakukan pemerintah mungkin telah menciptakan banyak polarisasi dan stigmatisasi mengenai bagaimana kita menilai kesuksesan anak-anak kita, dan bagaimana kita mendefinisikan tujuan pendidikan.

Tetapi, people power. Selalu ada yang bisa kita lakukan, dan selalu ada pertanyaan yang sama pada setiap masalah, dimana kita bisa mengambil peran memperbaiki?

Pertanyaan itu adalah “Ujian Nasional” yang sebenarnya, dan kita diberi waktu seumur hidup untuk menjawabnya. Selamat mengerjakan.

One comment on “Cara Menjawab “Ujian Nasional”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *